Diberdayakan oleh Blogger.
RSS
Container Icon

Sebuah Peringatan...


Bismillaah…


Hari ini aku dan saudari-saudariku seiman takziah ke tempat seorang teman halaqah, karena ayahnya meninggal. Innalillaahi wa inna ilaihi raaji’uun.

Telah lama aku tidak ta’ziah, sehingga peristiwa ini mengingatkanku kembali akan sebuah peristiwa dimana semua tiada bermanfaat kecuali amalnya.
Disana aku melihat tubuh yang terbaring berselimut kain jarit. Aku tak bisa menahan airmataku. Ya, air mataku mangalir membasahi masker yang ku kenakan. Kau tahu kenapa aku menangis?? Karena aku membayangkan seandainya yang terbaring kaku diatas meja itu adalah aku, ya jasadku ini. Aku teringat semua dosa yang pernah kulakukan, aku teringat akan kemaksiatan yang terus mengisi hariku, aku masih sering melanggar larangan Allah ta’ala, aku masih sering meninggalkan ketaatan kepada-Nya… aku teringat aku belum bisa membahagiakan ibu-bapakku. Aku belum minta maaf atas semua kesalahanku dan kedurhakaanku kepada orangtuaku, aku masih sering membuat ibu dan bapak menangis. Aku sering menzhalimi manusia lain, dan belum sempat minta maaf. Masih sedikit sekali bekalku untuk menuju kampung akhirat. Aku… aahhh….. aku takut akan suatu hari yang pasti terjadi sedangkan aku tak sempat bertaubat  kepada Rabbku atas semua dosa-dosaku… aku khawatir disaat kematianku tiba aku belum sempat minta maaf kepada orang-orang yang pernah aku zhalimi… aku khawatir saat Izrail mendatangiku aku dalam keadaan bermaksiat kepada-Nya.

kullu nafsun dzaaiqotul mauut… (setiap jiwa pasti akan mati…)
Benar-benar kematian adalah pelajaran yang sangat berharga bagi jiwa yang peka, untuk menunjukkan apakah seorang hamba itu dalam keadaan yang slalu ingat(pada Allah ta’ala) atau dalam keadaan yang lalai. Dan ini sungguh suatu teguran untukku atas semua nikmat yang aku sia-siakan. Aku melalaikan nikmat waktu yang telah Allah ta’ala berikan kepadaku. Aku masih sering menunda-nunda waktu sholat, masih sering mengisi waktu luangku dengan hal yang sia-sia. Aku melalaikan nikmat Allah ta’ala berupa tubuh ini, mata, telinga, tangan, kaki,…  mataku lebih sering membaca status-status facebook dibanding membaca Al-Qur’an, sehingga  telingaku  pun jadi semakin jarang mendengar tilawah Al-Qur’an.. tanganku, masih sering ku gunakan untuk berbuat jahil kepada oranglain dibanding membantunya... kakiku, masih jarang kugunakan untuk hadir di majelis-majelis ‘ilmu untuk mendengar tausyiah para ustadz/ah. Juga hatiku yang tak kugunakan untuk menghayati dan meresapi itu semua. Akalku yang sering kugunakan untuk negative thinking.

Dan jika hari ini adalah hari terakhirku…
Lalu, apa amal yang bisa kubanggakan dihadapanNya kelak??? Aku masih belum bisa istiqomah,.. aku masih sering berbelok arah ketika aku tersandung batu kerikil. Ya Allah… ya Rabby… matikanlah aku dalam keadaan muslim. Jangan Kau cabut nikmat iman dan islam dari dalam hatiku.. jangan Kau sesatkan aku setelah Engkau beri aku petunjuk.., istiqomahkan aku untuk senantiasa berada diatas kebenaran meskipun aku harus berjalan merangkak..

“RABBANAA LAA TUZIGH QULUUBANAA BA’DA IDZ HADAITANAA WA HABLANAA MIN LADUNKA RAHMAH INNAKA ANTAL WAHHAAB”

Akankah kematian tidak cukup menjadi sebuah pelajaran??





Sleman, 27 oktober 2013

-maryam az-zahra-

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

0 komentar: